Monday , December 16 2019
Home / HEALTH & PARENTING / Jangan Anggap Enteng Kebas, Kesemutan dan Rasa Terbakar Pada Penderita Diabetes

Jangan Anggap Enteng Kebas, Kesemutan dan Rasa Terbakar Pada Penderita Diabetes

GoHappyLive.com, JAKARTA- Penderita diabetes dalam kurun waktu berisiko mengalami komplikasi, salah satunya neuropati diabetes. Neuropati yang diikuti  gejala seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar dan rasa sakit sangat memengaruhi kualitas hidup.

 

Data International Federation (IDF) Tahun 2017 menunjukkan bahwa 50 persen penderita diabetes berisiko terkena gejala neuropati.  Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 10 juta kasus diabetes  dan data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Diabetes Melitus (DM) pada tahun 2018 sebesar 10,9% yang menggunakan konsensus PERKENI 2015.

Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Pesatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok, menjelaskan pada penderita diabetes, kadar gula dalam tubuh yang tinggi dalam kurun waktu yang lama akan melemahkan dinding pembuluh darah yang memberikan nutrisi ke sel saraf, sehingga dapat merusak sel saraf.

“ Hal itu yang menyebabkan penderita diabetes memiliki risiko tinggi terkena kerusakan saraf tepi atau neuropati perifer. Jika diabetes dan kerusakan saraf tidak segera ditangani sedini mungkin, maka akan mencapai tahap krusial, sehingga kelainan saraf tersebut  makin sulit untuk dapat pulih seperti semula,” ungkap Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&M, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE.

Bagi penderita diabetes, gejala seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar dan rasa sakit sangat memengaruhi kualitas hidup. Bahkan jika tidak diatasi, rasa kebas dapat memungkinkan penderita tidak merasakan jika terluka atau terkena benda tajam.

Jika sampai terjadi luka, penderita diabetes akan menurun kualitas hidupnya dan berpengaruh terhadap kondisi keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, keluarga berperan sangat penting, terutama untuk memastikan penderita diabetes mengontrol gula darah dan mampu mengelola diri secara optimal.

Dengan pola hidup kebanyakan  masyarakat  saat ini dengan konsumsi gula tinggi,  telah banyak melahirkan penderita  pre diabetes. Prof. Mardi menambahkan sebanyak 25 % dari pasien pre diabetes  akhirnya menderita diabetes.

“Bagaimana mengelola pre diabetes agar tidak menjadi diabetes, ya harus dengan preventif primer.  Tipnya , jangan gemuk, makanlah sesuai dengan kebutuhan saja. Jangan lupa melakukan aktivitas fisik, olahraga. Jangan stress,  bijaklah mengelola stress. Intinya ubahlah gaya hidup Anda,” urai Prof. Mardi.

Dalam rangka Hari Diabetes Sedunia, P&G Health melalui Neurobion mengadakan edukasi pencegahan neuropati, terutama pada penderita diabetes, mengenai vitamin neurotropik yang telah terbukti dapat mengurangi gejala neuropati pada penderita diabetes serta Neuropathy Check Point di lokasi umum untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.

Berdasarkan Studi Klinis 2018 NENOIN (penelitian non-intervensi dengan vitamin neurotropik) yang membuktikan bahwa konsumsi vitamin neurotropik (kombinasi vitamin B1, B6 dan B12) dapat mengurangi gejala neuropati seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar dan rasa sakit secara signifikan hingga dalam 3 bulan periode konsumsi hingga 66% pada penderita diabetes.

Sementara dari sisi pemerintah, dr. Dwi Oktavia Handayani, M.Epid – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengatakan  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan GERMAS sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

Beberapa program, salah satunya program deteksi dini dan edukasi tentang penyakit menular ini  pun gencar dilakukan.

dr. Yoska Yasahardja – Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, menambahkan salah satu kelompok responden penelitian NENOIN adalah 104 pasien diabetes yang mengalami gejala ringan dan sedang.

Selama masa penelitian, responden mengonsumsi satu tablet Vitamin Neurotropik sekali sehari setelah makan. Kombinasi Vitamin Neurotropik yang digunakan adalah Vitamin B1 (100mg), B6 (100mg) and B12 (5000μg) dari Neurobion Forte. Setelah monitoring berkala pada Hari ke-1, ke-14, ke-30, ke-60, dan ke-90, gejala neuropati pada pasien berkurang signifikan hingga 66%.

P&G Health melalui Neurobion berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan saraf masyarakat Indonesia dan mendukung sepenuhnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicanangkan oleh pemerintah. Neurobion juga secara berkelanjutan menggalakkan kampanye Total Solution dengan menyediakan produk vitamin neurotropik berkualitas yang terbukti klinis serta disesuaikan dengan tingkat gejala neuropati, deteksi dini di Neuropathy Check Point (NCP) dan senam kesehatan saraf Neuromove, termasuk sosialisasi ke instruktur senam se-Jabodetabek.

“Dalam rangka peringatan Hari Diabetes Sedunia, kami juga bekerja sama dengan toko ritel kesehatan dan kecantikan, Watsons, untuk melakukan Neuropathy Check Point (NCP) di sejumlah gerai di Jakarta. Kami harapkan perluasan lokasi NCP di periode ini dapat memfasilitasi masyarakat baik mereka yang positif diabetes, memiliki anggota keluarga diabetes, atau mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan saraf untuk deteksi dini risiko neuropati,”  ujar  Wens Arpandy, Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia.

About Dewi Syafrianis

Dewi Syafrianis

Check Also

10 Tahun doctorSHARE Melayani Masyarakat di Wilayah 3T

GoHappyLive.com, JAKARTA- Masyarakat di kota maupun di pedesaaan harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Berdasarkan …

Penerapan Sistem JKN  Menjadi Pembahasan Utama Dalam Forum Diskusi Asia Pacific Future Trends  Ke-12

GoHappyLive.vom, JAKARTA- Para pemangku kepentingan dari negara-negara Asia Pasifik bertemu dan berdiskusi tentang perkembangan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *