Tuesday , July 23 2019
Home / STORY / Mbok Cikrak, Ibunya Pahlawan Devisa

Mbok Cikrak, Ibunya Pahlawan Devisa

GoHappyLive.Com, JAKARTA- Dikalangan para pekerja di Taiwan, wanita cantik yang selalu berpenampilan bak artis ini dikenal dengan sapaan Mbok atau yang berarti Ibu dalam bahasa Jawa. Ya, Mbok Cikrak, ibu muda dengan 2 anak yang masih kecil telah menjelma sebagai ibu para pahlawan devisa di negara Taiwan.

Jika Anda sekali waktu mampir di bandara Taiwan, mendekatlah sejenak dalam rombongan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang akan balik ke tanah air. Mungkin saja Anda akan bertemu sosok wanita cantik yang terlihat sibuk melayani para TKW yang membutuhkannya.

Dialah Mbok Cikrak, seorang mantan TKW yang bernasib mujur karena dinikahi oleh pengusaha travel agent asal Taiwan.

Lantaran banyaknya pemesanan tiket ke Indonesia, oleh suaminya Cikrak diberi tugas khusus mengurusi para TKW yang akan pulang ke tanah air.

“Tipikal orang Taiwan nggak begitu pedulian. Misalnya dia sudah belikan tiket pulang untuk asisten rumah tangganya, ya sudah begitu saja. Setelah itu dia tinggal pergi begitu aja TKW nya. Mereka harus urus apa-apa sendiri di bandara,” kata Cikrak, suatu ketika.

Setelah hampir 10 tahun membantu bisnis suami, kepedulian Cikrak terhadap TKW memang tersiar lewat mulut ke mulut.

Namun semua kerja mulianya itu sempat menuai teguran para calo bandara.
Karena dianggap terlalu aktif mengurus TKW Indonesia.

Cikrak memilih tak ambil pusing, baginya kepentingan para pahlawan devisa negara ini diatas segalanya.

“Beberapa kali saya temukan TKI kita terlantar begitu saja di bandara. Rata-rata diantara mereka tak tahu apa yang dilakukan, yang lainnya bahkan tertipu dengan tiket pulang. Hal ini terus terang membuat saya jatuh kasihan. Nurani saya ingin membantu mereka,” katanya, lagi.

Sebagai mantan TKW yang pernah mengadu nasib di sana, Cikrak merasa terpanggil untuk mengedukasi mereka.Termasuk anjuran agar tetap menjaga hubungan baik dengan majikan. Jika memang mendapat masalah, Cikrak menyarankan mereka dapat menyelesaikan dengan baik. Kata Cikrak kabur bukanlah jalan keluar terbaik jika masih berkeinginan mencari kerja di sana.

Dipinang Pria Taiwan

Cikrak mengatakan dulu ketika memutuskan berangkat ke Taiwan, alasannya adalah karena himpitan ekonomi.

Tepatnya di usia 18 tahun, Mbok Cikrak yang tak pernah mau mengungkapkan nama aslinya ini, merantau ke Taiwan. Kala itu dia masih belia, baru lulus SMK .

“Waktu itu datang sebagai babu, babu kece lah. Hahaha. Tahun 2000 kalau nggak salah. Disitu jagain orangtua, selama tiga tahun,” kenang wanita berparas cantik, itu.Ibu 2 anak ini bercerita alasannya menjadi TKW lantaran himpitan ekonomi. Cikrak ingin membantu keluarga dengan mencari uang ke negeri orang.

Apalagi ketika dia melihat tetangga kiri kanan, nasibnya berubah setelah berangkat keluar negeri.

“Saya ingin merubah nasib keluarga saya,apalagi lihat tetangga-tetangga itu ke luar negeri pada bangun rumah. Saya juga ingin seperti mereka. Tadinya pengen sekolah lagi, tapi saya nggak punya punya uang. ya udah jadi TKW saja lah,” lanjut Cikrak yang baru belajar bahasa Taiwan selama satu bulan pada saat masa karantina di perusahaan yang akan menyalurkannya.

Begitu diterima bekerja, Cikrak bersyukur mendapatkan majikan yang terbilang baik. Buktinya dia bertahan hingga 3 tahun disana.

Tapi Cikrak terpaksa pulang ke tanah air, lantaran mendapat kabar ibunya sakit keras.

Rupanya dibalik kabar buruk yang diterimanya, Tuhan mempertemukan Cikrak dengan jodohnya, yaitu seorang pria asal Taiwan.

Perkenalan mereka pun tak sengaja. Secara kebetulan pihak agency yang mempekerjakan Cikrak memesan tiket pesawat ke tanah air pada sang pria.

“Waktu itu agency nya beli tiket sama suami saya. Begitu berkenalan dia sudah seperti yakin saja bakal jadian sama saya. Sebelum terbang saya dikasih handphone, katanya supaya bisa komunikasi. Selama 6 bulan pacaran lewat hp aja. Kemudian dia meminang saya, dia datang langsung ke kampung,” urai Cikrak yang saat ini dikarunia 2 orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan.

Usai menikah, Cikrak diboyong kembali ke Taiwan oleh suaminya. Cikrak pun turun ke lapangan membantu di perusahaan travel sang suami.

Aktif Menggalang Dana

Tak hanya di dunia nyata, nama Mbok Cikrak kian tenar di kalangan tenaga kerja Indonesia karena keaktifannya di sosial media.
Diluar kesibukannya di bandara, Cikrak memang aktif menyapa banyak orang, mulai dari facebook, youtube hingga Bigo Live.

Pada saat live interaktif di Bigo, misalnya Cikrak tak segan melayani pertanyaan sampai ‎sesekali menghibur agar penontonnya tak bosan.

“Iya aku sering di Bigo. Jadi mereka tanya kan aku bisa langsung jawab, kasih saran. Pokoknya memanfaatkan apa yang ada,” ujar Cikrak.

Yang membuat Cikrak semangat memanfaatkan sosial media, karena dari situ dia justru mendapatkan pemasukan sekitar Rp. 15 juta setiap bulan. Dari pemasukan tersebut, sekitar 1-3 juta kembali disalurkan guna membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim binaan yayasan Cikrak Gaul Club (CGC).

“Alhamdulillah bulan kemarin malah dapat Rp. 16 jutaan. Dari Bigo saya menyisihkan paling sedikit 1-3 juta. Paling tinggi sampai 5 juta. Bulan ini kasih 3,juta dari hasil saweran teman-teman di sosmed,” urai Cikrak yang sejak 6 tahun lalu juga merintis bisnis kosmetik.

Kembali ke soal panggilan Mbok Cikrak yang menempel pada dirinya, sembari tersenyum wanita berusia 35 tahun ini mengatakan nama tersebut merupakan pemberian dari dirinya sendiri.

“Kenapa saya pilih mbok itu kan ibu, karena saya pengen menjadi mboknya para pahlawan devisa negara. Sementara cikrak dalam bahasa jawa,artinya tong sampah. Saya kan sehari-hari kerja di bandara. Kalau mereka ada masalah, mereka bisa mencurahkan masalahnya ke aku. Termasuk kalau mereka bilang, ‘mbok aku mau kabur dari rumah majikan. Saya bilang kalau kamu kabur, kamu yang rugi. Kan bisa hubungi konseling yang menyelesaikan masalah di Taiwan. Sebab kalau ada masalah terus kabur, nanti mau ke Taiwan lagi, malah susah,” tutur Mbok Cikrak yang tetap tak mau memberitahu nama aslinya.

“Panggil saya Mbok Cikrak saja. Para TKI disini kenalnya itu saja. Kalau di Taiwan, saya dipanggilnya Jia Jia. Nama itu ejaan dari nama Indonesia saya sih,” jelasnya, kembali tersenyum manis.

 

About Oriza Sativa

Oriza Sativa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *