JAKARTA, Gohappylive.com – Maklon kosmetik PT Nose Herbal Indo terus berkomitmen melakukan penelitian dan pengembangan herbal Indonesia untuk bahan kosmetik dan skincare. Terbaru, penelitian tanaman endemic Kalimantan, Artocarpus, berkhasiat sebagai skincare pencerah kulit.
Industri kosmetik dan wellness nasional saat ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan membutuhkan dukungan inovasi yang berkelanjutan, kolaborasi multipihak, serta kepatuhan terhadap regulasi yang kuat.
“PT Nosé Herbal Indo sebagai perusahaan manufaktur kosmetik lokal berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis riset, teknologi, dan prinsip keberlanjutan guna mendukung perkembangan industri kecantikan nasional. Saat ini Nose berperan aktif sebagai kolaborator Academic, Business, and Government (ABG) demi memajukan kosmetik Indonesia berbasis riset,” kata Vice-CEO PT Nose Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum dalam acara Nose Innovation Day sekaligus peresmian Nose Innovation Center di Kelapa Gading Jakarta, Senin (23/2/2025).
Peresmian dilakukan oleh Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar, M Biomed PHD, didampingi CEO PT Nose Herbal Indo Kim Ho, dan Komisaris PT Nose Herbal Indo Halim Nababan. Selain itu juga hadir Ketua Pusat Kolaborasi Riset Kosmetik dan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kalimantan, Prof Enos Tangke Arung S Hut.MP PhD.
Ayu mengungkapkan, penelitian tanaman kayu Artocarpus atau tanaman terap dari jenis Nangka-nangkaan, melibatkan peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.
“Penelitian ini menggunakan daun dari tanaman genus Artocarpus, tanaman endemik Kalimantan. Daun tanaman ini mengandung zat aktif yang berkhasiat untuk pencerah kulit,” jelas Prof Enos Tangke Arung S Hut.MP PhD
Lebih lanjut, Ayu mengungkapkan, selama lebih dari enam tahun terakhir, Nosé secara konsisten menjalin kolaborasi dengan berbagai universitas dan instansi pemerintah dalam riset ilmiah untuk mendukung pengembangan kosmetik unggulan berbasis ingredient lokal Indonesia.
“Kami berkolaborasi dengan sejumlah universitas untuk melakukan penelitian tanaman herbal Indonesia, seperti Universitas Indonesia, UGM, IPB, dan Universitas Mulawarman,” papar Sri Rahayu.
Sejumlah tanaman yang diteliti, selain Artocarpus dari Kalimantan, antara lain adalah tanaman pegagan (Centella asiatica), kelor (Moringa oleifera), kayu manis (Cinnamomun), secang (Biancaea sappan (L.) Tod), kumis kucing (Orthosiphon aristatus), mengkudu (Morinda citrifolia), ketepeng (Cassia alata), dan lain-lain.
Kurang dari 1%
Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar MBiomed, PhD mengungkapkan, dalam program kolaborasi ABG (Academic, Business, and Government), pihaknya terus mendorong dikembangkannya kosmetik berbasis riset.
Berdasarkan data BRIN, kata Taruna, Indonesia memiliki 31 ribu jenis (spesies) tanaman berkhasiat. Sayangnya, kata dia, baru 71 izin edar kosmetik yang berbasis riset. “Kalau kita hitung, jumlah tanaman berkhahiat ada 31 ribu jenis menurut BRIN. BPOM punya data, apakah yang jamu, atau kosmetik ada 20 ribu izin edar dan itu sudah digunakan ratusan tahun lalu oleh nenek moyang. Namun dari 20 izin edar itu, yang sudah melakukan riset baru 71, masih kurang dari 1%. Itu lah yang dilakukan Nose Herbalindo melakukan penelitian tanaman berkhasiat untuk kosmetik. Kami sangat mendukung untuk mempercepat scientific based dan ini akan seperti snow ball, berkembang terus dan semoga dapat menginspirasi indsutri-industri herbal lain untuk melakukan riset,” ujar Taruna.

