Sunday , May 16 2021
Home / HEALTH & PARENTING / Perubahan Gaya Hidup di Era Pandemi Dapat Tingkatkan Obesitas Pada Orang Dewasa

Perubahan Gaya Hidup di Era Pandemi Dapat Tingkatkan Obesitas Pada Orang Dewasa

GoHappyLive.com, JAKARTA– Angka obesitas pada orang dewasa di Indonesia semakin meningkat sejak tahun 2013 sebesar 14,8 persen menjadi 21,8 persen  di tahun 2018 diikuti pula  prevalensi berat badan berlebih juga meningkat dari 11,5 persen di 2013 ke 13,6 persen di 2018.

 

 

Kondisi pandemi saat ini menjadi  tantangan tersendiri karena adanya perubahan gaya hidup dan kondisi lingkungan.

Pembatasan aktivitas keluar rumah yang dibarengi dengan peningkatan waktu berada di depan gadget, menyebabkan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan konsumsi makanan, terutama makanan siap saji dan pangan olahan yang dipesan secara online.

“Kondisi ini dapat menjadi faktor risiko terjadinya obesitas, yang kedepannya dapat berdampak pada peningkatan penyakit tidak menular dan beban ekonomi negara,” ungkap Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, DR. Dhian Dipo, MA pada  Workshop  Virtual bertajuk ‘Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas’ yang merupakan bagian dari kampanye Cermati Konsumsi Gula Garam Lemak dan Baca Label Kemasan, awal pekan ini.

Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akan informasi nilai gizi khususnya kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman. Tujuannya tak lain agar terhindar dari dampak pandemi yang mengarah ke gaya hidup sedentari dan dapat menyebabkan kelebihan berat badan hingga berpotensi obesitas yang berisiko prediabetes dan diabetes.

Head of Marketing Nutrifood, Susana, S.T.P., M.Sc., PD.Eng mengatakan pihaknya secara kontinue berupaya mengedukasi dan menginspirasi masyarakat untuk selalu mengimplementasikan gaya hidup sehat setiap saat termasuk di masa pandemi dengan berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk melalui program edukasi Cermati Konsumsi Gula Garam Lemak dan Baca Label Kemasan yang telah diselenggarakan secara konsisten sejak tahun 2013.

“Membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI berperan penting sebagai pencegahan risiko prediabetes dan diabetes terutama bagi orang dengan obesitas. Selain itu, perlu didukung juga dengan menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, istirahat yang cukup dan deteksi dini ,” urainya.

DR. Dhian Dipo, MA, menambahkan saat ini Indonesia mengalami beban ganda mengenai masalah gizi. Menurut Riskesdas 2018, kekurangan gizi makro seperti stunting (pendek) dan wasting (kurus) pada anak balita masih tinggi yaitu masing-masing sebesar 30,8 persen dan 10,2 persen.

Selain itu, kekurangan zat gizi mikro seperti anemia juga masih tinggi. Data menunjukkan bahwa 1 dari 2 Ibu hamil mengalami anemia (48%).

Di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan gizi lebih (obesitas) terutama pada usia dewasa, baik pada pria maupun wanita dengan prevalensi obesitas pada wanita lebih tinggi dari pria.

“Masyarakat tetap dapat mengambil nilai positif dari kondisi saat ini dengan menjadikan pandemi sebagai titik awal untuk kembali pada pola kehidupan yang sehat dan konsumsi gizi seimbang untuk meningkatkan imunitas. Gizi seimbang dapat diterapkan dalam isi piring untuk sekali makan yang dipenuhi dengan aneka ragam makanan dan bersumber pangan lokal yang memiliki kandungan fungsional bagi tubuh, ” ujarnya.

Sementara, Koordinator Kelompok Standardisasi Pangan Olahan Keperluan Gizi Khusus, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM, Yusra Egayanti, S.Si, Apt, MP menjelaskan idealnya, dalam sehari, masyarakat dapat mengonsumsi tidak lebih dari, gula sebanyak 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan, garam sebanyak 5 gram atau setara dengan 1 sendok teh, dan lemak total sebanyak 67 gram atau 5 sendok makan.

Dengan selalu cermat membaca label kemasan dan menjadikannya sebagai kebiasaan, maka masyarakat akan lebih cerdas untuk memilah zat gizi apa yang harus dipenuhi dan yang harus dibatasi agar terhindar dari berbagai penyakit salah satunya obesitas, prediabetes dan diabetes.

Ketua PERSADIA Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, mengatakan orang yang kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko prediabetes dan diabetes, penelitian di beberapa negara ada sekitar 47% sampai dengan 90% penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah kelebihan berat badan atau obesitas.

Pertanda prediabetes secara laboratoris adalah kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl dan atau kadar glukosa darah 2 jam post prandial 140-199 mg/dl.

Umumnya kelompok berisiko prediabetes adalah orang dengan obesitas/kegemukan, sering abortus, melahirkan bayi dengan berat badan 4 kg atau lebih, porsi makan besar tetapi kurang gerak, serta keluarga memiliki riwayat diabetes.

“Dalam jangka waktu 3-5 tahun, 25% prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2, 50% tetap dalam kondisi prediabetes, dan 25% kembali pada kondisi glukosa darah normal, ” tutup dr. Mardi.

 

About Dewi Syafrianis

Dewi Syafrianis

Check Also

Ibu Milenial Kini Hindari Penggunaan Deterjen Ber-LABSA

GoHappyLive.com,JAKARTA–Pernahkah Bunda mengalami kulit  merah-merah, gatal hingga mengelupas dan kasar ketika menggunakan deterjen  , pencuci …

Meski Sudah Berstatus Mahasiswa Peran Ortu Dan Kampus Tetap Penting Dalam Membangun Karakter

JAKARTA,GoHappyLve.Com-Mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi adalah asset bangsa di masa depan. Karakternya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *